Archive

Archive for February, 2011

Muhammad, Sang Pengusaha Sukses

February 16, 2011 2 comments

Rabu, 16 Februari 2011

Hidayatullah.com–TRADISI ritual peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan Maulid Nabi sudah menjadi budaya keagamaan di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan Maulid Nabi sudah dijadikan sebagai hari besar di negeri ini, yang berarti adalah hari libur nasional.

Bulan ini, tepatnya 15 Februari 2011, adalah tepat 12 Rabiul Awwal 1432 H pada penanggalan Islam (Hijriah) adalah hari kelahiran seorang Manusia Agung bernama Muhammad pembawa agama perdamaian untuk seluruh umat manusia.

Kelahiran Nabi sebenarnya tidak termasuk hari besar jika dilihat dari pandangan al-Qur’an dan al-Hadist. Namun, biasanya, peringatan Maulid Nabi dimaksudkan sebagai momentum untuk mempelajari dan merenungi kembali perjalanan hidup beliau sebagai seorang Rasul sekaligus sebagai manusia biasa yang sukses dalam berbagai sisi kehidupan.

Rasulullah adalah potret pribadi sukses dalam menjalani kehidupan yang harus menjadi panutan bagi umat manusia.

Sirah Nabi adalah living model yang diinginkan Allah untuk diimplementasikan oleh tiap pribadi muslim sejati. Jadi perayaan Maulid Nabi bukan sekedar kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah tapi yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana memahami perjalanan hidup beliau secara utuh, sempurna dan menyeluruh sehingga menjadi panutan dalam membangun peradaban umat manusia.

Dengan momentum Maulid Nabi ini, penulis ingin menghadirkan satu dimensi kehidupan Rasulullah yang jarang dibahas oleh para da’i dan muballig yaitu kesuksesan Muhammad sebagai seorang pedagang. Muhammad bukan hanya sukses dalam berdakwah, memimpin negara dan rumah tangga tapi juga sukses dalam membangun usaha. Muhammad bukan hanya disegani sebagai pemuka agama dan pemimpin negara tapi juga disegani sebagai saorang saudagar yang memiliki jangkauan jaringan bisnis dan pangsa pasar yang luas serta pelanggang yang banyak.

Muhammad sebagai pemimpin bisnis dan entrepreunership dijelaskan secara gamblang di dalam buku Dr. Syafi’i Antonio dengan judul “Muhammad SAW Super Leader Super Manager”. Buku tersebut menguraikan bahwa masa berbisnis Muhammad yang mulai dengan intership (magang), business manager, investment manager, business owner dan berakhir sebagai investor relative lebih lama (25 tahun) dibandingkan dengan masa kenabiannya (23 tahun). Nabi Muhammad bukan hanya figur yang mendakwakan pentingnya etika dalam berbisnis tapi juga terjun langsung dalam aktifitas bisnis.

Sang manager

Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Suriah.

Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha muda di Mekah. Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.

Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.

Dalam kurung waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian. Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment manager (mengelola modal investor).

Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab. Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.

Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah. Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar. Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.

Setelah Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui dengan ekspedisi bisnis secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di jazirah Arab, beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun Internasional demi mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya. Jaringan perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busara, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.

Saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.

Kehebatan berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad menanyakan kepada Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang terkemuka serta kota-kota yang terkemuka di Bahrain. Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad. Kemudian al-Ashajj berkata “sungguh Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada saya sendiri dan anda pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya dibanding apa yang saya ketahu. Muhammad menjawab “saya telah diberi kesempatan untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.” (Syafi’i Antonio, 2007).

Demikianlah perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi seorang Nabi yang jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di saat perayaan Maulid Nabi. Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak orang yang mengaggap Rasulullah sebagai orang yang miskin padahal justru sebaliknya beliau adalah sosok pebisnis yang sukses.

Melalui momentum Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema kesuksesan Muhammad sebagai pelaku bisnis demi memacu munculnya pengusaha-pengusaha muda di kalangan Muslim. Sebenarnya negeri ini memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha sukses, sebut saja misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha batiknya. Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui jumlah wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta. Tentunya jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.

Negara-negara maju relative memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya. Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka. Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11, 5-12 persen.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.

[Ali Rama, Peneliti ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesia Development)]

http://hidayatullah.com/read/15384/16/02/2011/–muhammad,-sang-pengusaha-sukses-.html

 

Zakat Pengurang Kemiskinan

February 2, 2011 2 comments

Jumat, 28 Januari 2011 | 22:00:34 WITA | 88 HITS

Oleh: Ali Rama (Pengurus Unit Pelayanan Zakat Baznas RI di Malaysia)

Meskipun kinerja makroekonomi nasional menunjukkan prestasi yang cukup membanggakan, anggaplah misalnya pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 6,2 persen, melampaui ekspektasi target pemerintah, namun kinerja ini belum maksimal menyelesaikan persoalan mendasar negeri ini, yaitu kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Tahun 2010, anggaran pengentasan kemiskinan mencapai Rp80 triliun, naik Rp10 triliun dari tahun sebelumnya yang dialokasi kepada 22 lembaga/kementerian.

 

Angka kemiskinan di negeri ini masih cukup tinggi. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang miskin mencapai 31.02 juta jiwa atau 13,5 persen, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 32,53 juta jiwa atau 14,15 persen. Ini mengindikasikan kinerja ekonomi nasional dan alokasi anggaran pengentasan kemiskinan belum bisa bekerja maksimal dalam menekan tingkat kemiskinan sampai di bawah 10 persen dari total penduduk Indonesia.

 

Dalam perspektif Islam, akar penyebab kemiskinan adalah masalah struktural karena Allah telah menjamin rezeki dari setiap makhluknya. “Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)” (QS 30:40). Di saat yang besamaan Islam menutup terjadinya peluang kemiskinan kultural melalui anjuran untuk mencari rezeki dan karunia Allah yang melimpah dan tersebar di mana-mana (QS 63:10).

 

Salah satu cara Islam menyelesaikan kemiskinan struktural ini adalah dengan cara anjuran untuk menumbuhkan budaya Zakat, infak dan sadakah (ZIS) di kalangan umat Islam. Budaya berzakat, berinfak dan bersedekah bukan hanya berefek spiritual personal saja tapi juga berdampak secara sosial dan ekonomi. Ia dapat mengurangi tingkat kesenjangan pendapatan, kemiskinan dan tingkat kriminalitas.

 

Menurut Dr Ugi Suharto, para mustahik yang masuk dalam kategori delapan asnaf adalah orang-orang miskin. Fuqora adalah orang yang tidak berpenghasilan tetap. Ibnu Sabil, adalah orang yang terputus dari sumber kehidupan, sedangkan orang musafir adalah orang yang terputus dari sumber penghasilan. Fii sabilillah adalah mereka yang berperang di jalan Allah yang membutuhkan banyak biaya. Sementara amiilin adalah orang yang mengusahakan pengumpulan dan pendistribusian zakat. Secara umum, zakat diutamakan kepada fakir miskin.

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ZIS (zakat, infaq dan sedekah) adalah untuk mengurangi kemiskinan. Penelitian yang dilakukan Dr Irfan Syauki Beik (2010) atas 1.195 rumah tangga penerima zakat di wilayah DKI Jakarta, menunjukkan bahwa dana zakat yang disalurkan mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga mustahik rata-rata 9,82 persen dan mengurangi tingkat kemiskinan mustahik sebesar 16,80 persen. Penelitian ini sebagai bukti bahwa jika ZIS dikumpulkan dan dikelola secara maksimal maka akan mampu menekan tingkat kemiskinan di negeri ini.

 

Jika para pengambil kebijakan di negeri ini memahami makna dan fungsi zakat secara komprehensif maka amandemen UU No 38 tahun 1999 yang salah satu tujuannya adalah menjadikan zakat sebagai pengurang pajak tidak perlu ditolak lagi. Zakat tidak seharusnya dipandang secara parsial yaitu menyangkut isu agama dan dapat mengurangi penerimaan negara dari pajak.

 

Sebenarnya tidak perlu terjadi kekhawatiran jika zakat sebagai pengurang langsung pajak, akan mengurangi jumlah penerimaan pajak. Malaysia yang telah menerapkan zakat sebagai pengurang pajak justru penerimaan zakatnya naik, pada saat bersamaan penerimaan pajaknya juga mengalami peningkatan. Bukan zakat yang akan mengurangi penerimaan pajak tapi justru koruptor-koruptor dan makelar-makelar pajak semacam “Gayus” yang berkeliaran di departemen perpajakan.

 

Penolakan amandemen Undang-Undang Zakat atas dasar isu agama yang sempat jadi isu nasional sudah tidak relevan lagi. Zakat seharusnya diletakkan dalam perspektif pengentasan kemiskinan. Zakat seharusnya menjadi bagian dari kebijakan fiskal negara dalam mengentaskan kemiskinan. Apalagi mengingat potensi zakat di Indonesia sangat besar jika dikumpulkan dan dikelola secara profesional.

 

Badan Amil Zakat Nasional (baznas) memperkirakan potensi zakat Indonesia bisa mencapai Rp100 triliun pertahun jika dikelola secara profesional. Dalam skala provinsi misalnya, potensi zakat di provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta. Angka ini sangat efektif jika dikelola secara amanah dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Penelitian Dompet Dhuafah tentang peta kemiskinan dan potensi zakat secara komprehensif menunjukkan bahwa terdapat 23.676.263 muzakki di seluruh Indonesia dengan jumlah kumulatif terbesar di daerah Jawa. Sementara jumlah mustahik di seluruh Indonesia sebanyak 33.943.313 jiwa yang sebagaian besarnya berada di Jawa Timur (7.446.180 jiwa), Jawa Tengah (7.012.814) dan Jawa Barat (5.736.425). Dengan adanya peta potensi zakat dan peta kemiskinan regional ini akan semakin mengefektifkan pengelolaan zakat di tanah air.

 

Yang harus ditingkatkan adalah peran dan kinerja lembaga pengumpul zakat. Alokasi penyaluran dana zakat lebih ditekankan pada pola pemberdayaan dibandingkan hanya sekadar pemberian cash langsung yang sifatnya konsumtif. Penyaluran kepada mustahik lebih diprioritaskan pada pemberian “kailnya” bukan “ikannya”, pemberian pemahaman tentang bagaimana mengelola keuangan juga perlu diberikan kepada para mustahik. Karena kebanyakan mereka tidak memahaminya sehingga terjebak pada pola konsumtif.

 

Pengelolaan dana zakat yang dilakukan oleh baznas dan Dompet Dhuafa sebenarnya sudah cukup baik, misalnya pendirian rumah sakit gratis, pemberian beasiswa, perbaikan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah. Efek jangka panjang program seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap para mustahik.

 

Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Baznas RI di Malaysia misalnya mengalokasikan sebagian dana zakat yang terkumpul untuk dijadikan bantuan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang tidak mampu di Malaysia dua kali dalam setahun kerja sama Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia. (*)

Categories: Economic Issues