Home > Keuangan Shariah > Momentum Ekonomi Syariah

Momentum Ekonomi Syariah

Selasa, 01/09/2009 09:45 WIB
Momentum Ekonomi Syariah
Ali Rama – suaraPembaca

Jakarta – Krisis keuangan yang melanda dunia saat ini tidak hanya berdampak di Amerika Serikat sebagai episentrum krisis keuangan. Tapi, juga berdampak pada negara-negara maju lainnya. Seperti di kawasan Eropa dan Asia.

Krisis yang terjadi saat ini adalah bagian dari siklus ekonomi Kapitalisme. Dalam catatan sejarah ekonomi krisis keuangan dan ekonomi terjadi di negara-negara Kapitalis. Bahkan, menurut Roy Davies dalam bukunya “The History of Money From The Encient to Present Time” menyebutkan bahwa di sepanjang abad 20 telah terjadi 20 kali krisis yang melanda banyak negara. Jadi rata-rata siklus krisis terjadi dalam tempo lima tahun sekali.

Dari data dan fakta historis tersebut menunjukkan bahwa sistem Kapitalisme tidak pernah sepi dari gejolak ekonomi yang menyisakan penderitaan panjang bagi kehidupan umat manusia. Menurut pakar ekonomi penyebab utama dari krisis adalah kepincangan antara sektor moneter dengan sektor real.

Laju sektor keuangan jauh lebih cepat dari pada sektor real. Perekonomian didominasi dan dikendalikan oleh transaksi dunia maya (virtual transaction) yang berpusat pada currency speculation dan derivative market. Volume transaksi dunia maya mencapai US$ 1.5 triliun dalam satu hari. Sedangkan volume perdagangan yang terjadi di sektor real hanya US$ 6 triliun setiap tahunnya.

Bahkan, data lain menunjukkan bahwa sektor moneter menguasai 99% dari total transaksi dunia dan hanya 1% transaksi yang benar-benar terjadi pertukaran barang dan jasa. Gelembung ekonomi yang diciptakan oleh ekonomi berbasiskan ribawi ini hanya tinggal menunggu momentum ledakan krisis saja.

Keterpurukan sistem Kapitalis justru menjadi peluang buat munculnya sistem alternatif yang bisa menyelesaikan akar permasalahan yang selalu terjadi dalam sistem Kapitalisme. Inilah momentum ekonomi syariah untuk tampil sebagai alternatif pilihan yang bisa menyelesaikan persoalan tersebut sekaligus membuktikan konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.

Hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada tahun 2005 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan jasa perbankan syariah dari tahun ke tahun. Peningkatan ini terlihat dari meningkatnya volume transaksi, jumlah aset, jumlah lembaga perbankan, dan pangsa pasar (market share). Saat ini adalah waktu yang tepat bagi sistem ekonomi Islam. Apalagi didukung oleh momentum yang tepat yang disertai dengan dukungan masyarakat yang semakin meningkat secara signifikan.

Indikator ini menunjukkan bahwa eksistensi perbankan syariah sudah bisa diterima di kalangan masyarakat. Realitas ini kemudian diperkuat dengan bermunculannya lembaga-lembaga keuangan syariah baik yang berbentuk perbankan, asuransi, maupun lembaga pembiayaan (multifinance). Di samping itu, yang paling menggembirakan dalah adanya antusiasme dari perbankan konvensional untuk memasuki industri keuangan syariah.

Untuk tahun 2009 ini diperkirakan akan ada 10 bank umum syariah yang akan meramaikan kancah industri perbankan syariah di tanah air. Ini juga sekaligus bukti bahwa ekonomi yang bebasiskan prinsip syariah juga mejanjikan tingkat profitabilitas yang tinggi.

Hal yang mungkin perlu dipertanyakan adalah apakah perbankan syariah sudah menjadi bank alternatif yang dikelola secara profesional bukan melalu pendekatan emosional. Apakah jasa perbankan syariah sudah bisa dinikmati dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat.

Salah satu persamaan antara bank syariah dengan bank konvensional adalah sama-sama mencari keuntungan setinggi-tingginya. Artinya bahwa bank syariah dalam manajemen investasi dan finacial dituntut untuk menjadi profit oriented sehingga harus dikelola secara bonafid dan professional. Tugas dan kewajiban perbankan syariah adalah menjalankan pertumbuhan ekonomi berdasarkan syariah di mana usaha mencari keuntungan yang sebesar-besarnya itu harus didasarkan pada prinsip syariah.

Pertumbuhan ekonomi syariah yang menggembirkan ini harus tetap dikawal dan diawasi secara terus-menerus agar tidak menyimpan dari syariah compliant. Dikhawatirkan akibat keinginan yang terlalu tinggi untuk menambah demand dan memasuki semua segmen masyarakat sehingga tidak mempedulikan lagi aspek ketentuan dan legalitas syariahnya demi untuk mencari keuntungan semata. Jika hal ini terjadi tidak menutup kemungkinan ekonomi syariah (bank syariah) akan mengalami nasib yang sama seperti sistem Kapitalisme, yaitu mengalami bencana krisis keuangan akibat meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya.
Ali Rama
Sekretaris Umum Islamic Economics Forum For Indonesian Development (ISEFID) dan saat ini sedang S2 di program Master of Economics International Islamic University Malaysia.

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/09/01/094557/1193698/471/momentum-ekonomi-syariah?992205470

Categories: Keuangan Shariah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: