Home > Keuangan Shariah > Satu Tahun Pasca Runtuhnya Pasar Keuangan AS

Satu Tahun Pasca Runtuhnya Pasar Keuangan AS

Senin, 14/09/2009 11:52 WIB
Satu Tahun Pasca Runtuhnya Pasar Keuangan AS
Ali Rama – suaraPembaca

Jakarta – Setelah Perang Dunia (PD) II yang diikuti dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat (AS) muncul sebagai pemain tunggal dalam pentas politik dunia. AS tampil sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang tidak ada tandingannya. Separuh dari transaksi keuangan global dalam mata uang dolar AS. Lebih dari separuh output dunia disumbangkan oleh AS. Bahkan, dua per tiga cadangan devisa dunia dimiliki oleh AS.

Industry AS digerakkan oleh General Motor, Ford, dan Chrysler Motor –biasa dijuluki The Big Three, yang menguasai pasar dunia tanpa saingan. Begitu juga industri baja, manufaktur alat mesin, aluminium, pesawat, dan industri minyak AS seperti Golf Oil, Texaco, Mobil, menguasai jantung perekonomian dunia. Hal ini yang mengantarkan AS menjadi salah satu negara termakmur di dunia dengan tingkat pendapatan per kapita salah satu tertinggi di dunia pada periode tersebut.

Namun, abad kedigdayaan Amerika (American’s Century) itu tampaknya harus berakhir. Daya saing, produktivitas, industri manufaktur yang berbasis tekhnologi mulai digeregoti oleh negara maju lainnya. Seperti Jepang dan negara-negara industri baru, Korea, Taiwan, Cina, dan India.

Runtuhnya hegemoni AS juga dapat terefleksikan dari semakin menurunnnya pamor Dolar AS. Beberapa ahli ekonomi memperkirakan dominasi dan hegemoni dolar tinggal menunggu takdir menjadi bagian peninggalan sejarah. Jika hal ini terjadi malapetaka akan menimpa perekonomian AS karena hutang pemerintahan AS yang mendekati USD 9 triliun dan akan terus meningkat adalah utang kepada pihak asing.

Berakhirnya keperkasaan ekonomi AS yang sekaligus simbol Kapitalisme global semakin diperkuat setelah terjadinya krisis keuangan 2008 yang telah sukses memporakporandakan perekonomian negeri Paman Sam tersebut. Bencana keuangan yang melanda negara Super Power itu membuat beberapa bank raksasa dunia yang telah berdiri puluhan tahun dan beraset miliaran Dolar AS harus tutup dan sebagiannya menjadi pasien pemerintah AS.

Dimulai dengan bangkrutnya bank raksasa Lehman Brother dan perusahaan financial raksasa Bear Stearns. Terakhir perusahaan asuransi terbesar AIG (American International Group) yang menunjukkan gejala yang sama. Krisis keuangan ini berawal dari krisis Subprime Morgage yang kemudian merontokkan sejumlah perusahaan keuangan AS. Total kerugian industri finansial global mencapai USD 519 miliar.

Sejumlah lembaga keuangan raksasa dunia mengumumkan kerugian dan kebangkrutannya. Hal ini tidak hanya terjadi di AS saja tapi menyebar ke Eropa dan Asia. Kejatuhan industri finansial dunia tersebut telah menimbulkan kepanikan yang luar biasa di kalangan investor, yang membuat indeks Dow Jones, Nasdaq, Hang Seng, Hongkong, Nikkei, serta IHSG merosot tajam.

Langkah penyelamatan yang dilakukan Pemerintah AS berupa bailout sebesar USD 700 miliar gagal menenangkan gejolak di pasar finansial. Para pelaku keuangan menilai paket bailout ke sektor keuangan tersebut tidak cukup. Korporasi AS butuh dana talangan lebih besar lagi karena sudah terjebak utang-utang beracun (toxic debt).

Tragedi keuangan ini, tepatnya satu tahun silam, tidak akan pernah hilang dalam memori kolektif dunia. Sebuah peristiwa yang meruntuhkan keyakinan sebagian orang tentang keperkasaan sistem Kapitalisme ala AS.

Rentetan bencana keuangan tersebut membuktikan begitu rapuhnya sistem keuangan AS. Kredit macet (Subprime Mortage) telah mempecundangi dan meluluhlantakkan perusahaan-perusahaan raksasa dunia. Kejadian ini sekaligus bukti kegagalan sistem Kapitalisme dalam menciptakan sistem ekonomi yang stabil tanpa krisis.

Dekonstruksi Paradigma Ekonomi
Krisis kredit perumahan ini memunculkan sisi gelap dari Kapitalisme. Para pelaku keuangan AS ternyata mempraktikkan Kapitalisme yang kebablasan dengan konsep dasar “money creates more money”. Atau menjadikan uang sebagai komoditi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Dengan berbagai bentuk produk derivatif yang seolah-olah kreatif dan inovatif tapi sebenarnya sangat berisiko dan bisa menyebabkan gejolak yang serius pada sektor keuangan dalam jangka panjang. Krisis keuangan ini juga membuktikan adanya kerakusan dan ketamakan (greedy) yang tidak terkendali yang terjadi dalam Wall Street, tempat di mana uang dapat berkembang biak tanpa adanya sirkulasi barang dan jasa.

Sistem Kapitalisme di AS sangat tergantung sektor keuangan. Runtuhnya sektor tersebut sama dengan runtuhnya perekonomian AS. Bahkan, beberapa ekonom yang menggambarkan perekonomian AS –sang super power abad ke-20 yang boming ekonominya hanya ditopang oleh sektor kelembagaan keuangan yang merajai dunia, sebagai rumah kartu (house of cards) alias perekonomian dibangun di atas fondasi utang.

Sistem finansial ini membantu mengalirkan “darah” ke jantung perekonomian AS dengan cara menyedot likuiditas dari luar dalam jumlah besar untuk menggerakkan perekonomian AS dan membiayai defisit anggaran, perdagangan, neraca transaksi berjalan, dan peperangan. Secara sederhana defisit terjadi karena negara tersebut membelanjakan uang lebih banyak dari yang dihasilkan.

Transaksi spekulaif yang lahir dari rahim sistem Kapitalisme menjadi kontributor terbesar jatuhnya sistem keuangan AS. Transaksi spekulatif ini membuat perekonomian AS nampak gagah dari luar tapi sebenarnya bubble yang tinggal menunggu takdirnya untuk meletus. Karena, transaksi keuangan itu tidak diimbangi oleh transaksi di sektor riil yang menghasikan komoditas dan jasa.

Betapa pun canggihnya menejemen risiko transaksi spekulatif akan selalu menghasilkan kekacauan ekonomi sebagaimana sering terjadi pada kasus-kasus sebelumnya. Transaksi spekulatif akan hanya menimbulkan keuntungan di satu pihak dengan membuat kerugian pada pihak lainnya. Polanya adalah win-loose situation. Transaksi spekulasif akan semakin memperlebar jarak antara sektor keuangan dan sektor riil.

Oleh karena itu mengenang satu tahun runtuhnya perekonomian AS sebagai simbol Kapitalisme global menjadi titik balik ekonomi dunia untuk mengedepankan fundamental ekonomi yaitu menjaga agar pertumbuhan sektor finansial bisa beriringan dengan pertumbuhan sektor riil. Sehingga, harga komoditas yang terjadi di pasar bukan ditentukan oleh spekulan. Pertumbuhan ekonomi didapatkan dari pertumbuhan sektor riil dan perputaran modal yang merata kepada semua pelaku ekonomi.

Untuk memperbaiki keadaan ini tidak ada jalan lain kecuali mengubah paradigma dan visi. Melakukan satu titik balik peradaban, dalam arti mengubah sistem ekonomi dari pemikiran Kapitalis yang didasarkan filsafat materialisme dan sistem ekonomi ribawi menjadi sistem ekonomi yang memiliki nilai dan norma yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena, tanpa upaya dekonstruksi paradigma ekonomi krisis demi krisis pasti terus terjadi. Ketidakadilan ekonomi di dunia akan semakin merajalela, dan kesenjangan ekonomi terus menjadi masalah yang tak terselesaikan.

Islam sebagai ajaran pembawa rahmat bagi seluruh alam, manusia, dan lingkungan sekitarnya menawarkan solusi dengan sistem ekonominya yang jelas-jelas melarang kegiatan spekulatif (maysir), penggunaan bunga, menciptakan situasi win-win dengan semangat kerja sama dan tolong menolong (ta’awun) dan menerapkan prinsip keadilan. Sistem ekonomi islam menganut nilai dan norma dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan menekankan sektor riil dari pada sektor keuangan. “Waahallallahu al-ba’i waharrama riba”.

Sistem ekonomi Islam lebih menekankan konsep aset dan production based system yang direpresentasikan oleh sistem musyarakah dan mudharabah. Dampak bagi perekonomian secara keseluruhan sistem musyarakah dan mudarabah akan mengurangi kemungkinan terjadinya krisis keuangan dan resesi ekonomi akibat stabilnya sektor riil dan sektor moneter. Sektor riil dan moneter akan bergerak secara seimbang. Bagi hasil atau return pada sektor keuangan sangat tergantung pada kinerja sektor riil (Beik dan Hafidhuddin, 2006).

Ali Rama
rama_clb_ku@yahoo.com

Penulis adalah Sekretaris Umum Islamic Economics Forum For Indonesian Development (ISEFID). Kini sedang menempuh S2 di Program Master of Economics International Islamic University Malaysia.

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/09/14/115245/1203017/471/satu-tahun-pasca-runtuhnya-pasar-keuangan-as?882205470

Categories: Keuangan Shariah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: