Home > On Comment! > EVERYTHING IS ABOUT MONEY

EVERYTHING IS ABOUT MONEY

——————–Catatan Mafia Gombak—————-

“Don not work for money but make money works for you” dan “money creates money”, term tersebut sudah menjadi kiblat bagi mereka yang sering bergelut dengan urusan bisnis dan investasi. Berinvestasi pada unit bisnis yang profitable dengan mengharapkan tingkat keuntungan tertentu adalah kalkulasi yang normal dan wajar dalam logika bisnis baik yang bergerak di sector real maupun financial. There is no free lunch, terkadang menjadi pertimbangan dalam bermuamalat. Pengorbanan (cost) harus dikonpensasi dalam bentuk keuntungan (return) yang bisa didapatkan karena a dollar today is better than a dollar tomorrow because it can be invested to gain return in the future. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah salah pikiran tersebut?

Islamic bank adalah lembaga yang menjalankan fungsi bank pada umumnya yaitu mengumpulkan dana dari masyarakat baik dalam bentuk wadiah amanah ataupun deposito kemudian menyalurkan ke masyarakat dalam bentuk pemberian pembiyaan ke sector bisnis yang menguntungkan.

Dana yang terkumpul dari masyarakat harus dikelola sebaik mungkin supaya bisa menghasilkan margin of profit atau return yang nantinya akan diprofit sharingkan atau dijadikan bonus kepada nasabah bank. Jadi semua bank tidak terkecuali dengan Islamic bank merupakan “mesin pencipta uang” yang mempertemukan antara pihak yang surplus modal dengan pihak yang deficit modal dengan mensyaratkan bagi hasil atau margin of profit di setiap kontrak-kontrak yang dilakukan. Dana yang tidak tersalurkan ke pembiayaan usaha syariah biasanya digunakan untuk menutupi deficit yang terjadi dibank yang lain tentunya dengan mensyaratkan tingkat keuntungan (rate of return) dari pinjaman dana tersebut, atau sebaliknya jika bank kelebihan pembiayaan atau dikenal total financing Deposit Ratio (FDR) melebihi 100 percent maka harus dicover dengan pinjaman dari bank lain dan tentunya akan dikenakan charge (interest rate) atas pinjaman ini. Transaksi di atas dikenal dengan istilah mudhorabah interbank overnight. Apakah salah jika bank berfungsi untuk mencari keuntungan dari setiap akad-akad syariah yang dilakukan, seperti transaksi di atas.

Belakangan ini di Indonesia lagi marak istilah sukuk baik dengan menggunakan skim ijarah, mudharabah ataupun musyarakah. Sukuk ijarah dengan menggunakan skim lease and sub lease, dengan skim tersebut, perusahaan penerbit menjaring dana investasi syariah untuk membeli hak manfaat suatu proyek atau barang dalam kurun waktu tertentu, selanjutnya penerbit tersebut menyewakan kembali barang tersebut kepada penyewa lain. Logika sederhananya adalah misalkan pemerintah membutuhkan dana Rp 20 trilliun dan sumber dananya berasal dari penerbitan sukuk ijarah. Pemerintah akan menujuk perusahaan A sebagai agen penjual sukuk serta menjadikan asset-asset Negara sebagai objek komoditi transaksi (underlying assets). Para investor akan membeli surat berharga sukuk dengan securitized assets-nya adalah asset-asset Negara. Jadi investor membeli surat-surat berharga Negara tersebut dari agen penjual kemudian agen penjual menyewakan kembali asset-asset Negara tersebut kepada pemerintah. Biaya dari penyewaan tersebut akan menjadi return buat para investor. Setelah masa kontrak habis maka pemerintah akan membeli kembali surat-surat berharga asset Negara tersebut. Jadi kalau ditelaah lebih dalam bahwa para investor sebenarnya tidak menginginkan asset dari pemerintah tapi menginginkan return dari uang yang mereka investasikan. Logika dasarnya adalah money create money tapi dengan menggunakan underlying asset dalam proses penciptaan uang itu.

Islam tidak menganggap uang sebagai komoditi karena tidak memiliki nilai intrinsic. Jadi uang tidak boleh melahirkan uang karena islam tidak mengenal time value of money on money karena termasuk dalam kategori riba. Tapi time value of money on asset dibolehkan. Hal ini bisa tercermin dengan dibolehkannya perbedaan harga karena perbedaan term of payment oleh para ahli fiqhi.

Tapi yang masih mengganjal adalah bagaimana dengan system mudharabah interbank over night yang bisa menghasilkan keuntungan hanya dalam satu malam? Bagaimana dengan investor yang berinvestasi tapi hanya menginginkan “uang dari hasil penciptaan uangnya” tanpa bermaksud memiliki underlying assetnya seperti pada skim sukuk ijarah di atas.

Uang itu bisa bertelor uang…..

Jumat, 31/07/09

Categories: On Comment!
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: