Home > Umum > DI BAWAH BAYANG-BAYANG AL-QUR’AN

DI BAWAH BAYANG-BAYANG AL-QUR’AN

Al-Qur’an diturunkan di muka bumi dengan tujuan menjadi petunjuk dan pedoman bagi manusia supaya hidup sesuai kehendak Allah. Al-Qur’an adalah potret kehidupan yang diinginkan oleh Allah supaya dibumikan oleh makhluknya. Untuk menjelaskan kehendak-kehendak Allah yang tertuan dalam Al-Qur’an maka diutuslah seorang Rasul untuk menjelaskan sekaligus mengimplementasikan kehendak-kehendak-Nya tersebut, sebagaimana termaktub dalam sebuah Hadist “Sesungguhnya akhlak Muhammad adalah Al-Qur’an.” Sirah Muhammad adalah bagian wujud nyata Al-Qur’an yang diinginkan oleh Allah untuk ditiru oleh manusia.

Hidup di bawah bayang-bayang Al-Qur’an adalah kehidupan seperti apa yang dikatakan oleh Sayyid Quthb dalam tafsir “fi Zhilalil Qur’an” mengembalikan semua kehidupan kepada manhaj Allah yang ditulisnya di dalam kitab-Nya yang mulia bagi kemanusiaan. Yaitu dengan menjadikan kitab ini sebagai pengatur di dalam kehidupannya dan berhukum kepadanya di dalam semua urusannya. Kalau tidak begitu, kerusakan akan terjadi di muka bumi, kesensaraan bagi manusia, terbenam ke dalam lumpur kejahiliahan yang menyembah hawa nafsu selain Allah.

Perlu diketahui dan diyakini bahwa tidak ada kebaikan dan kedamaian bagi bumi ini, tidak ada kesenangan bagi kemanusiaan, tidak ada ketenangan bagi manusia, tidak ada ketinggian, keberkahan, dan kesucian, dan tidak ada keharmonisan antara undang-undang alam dan fitrah kehidupan melainkan kembali kepada Allah.

Hidup di bawah bayang-bayang Al-Qur’an berarti hidup di bawah kendali Allah, Dialah yang mengatur dan mengendalikan alam ini dibawah kehendak dan ketentuannya. Jika manusia terus konsisten dalam bayang-bayang Al-Qur’an maka mereka akan selalu berpositif tinking terhadap segala kehendak Allah yang terjadi padanya, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau.” (Ali Imran: 191)

Hidup di bawah bayang-bayang Al-Qur’an laksana duduk di bukit yang tinggi sehingga bisa melihat kehidupan manusia secara utuh dan menyeluruh, dia akan nampak seperti seorang dewasa yang melihat permainan anak-anak kecil, pekerjaan anak-anak kecil, dan tutur katanya yang pelat seperti anak kecil. Itulah istilah Sayyid Quthb jika kehidupan dinaungin oleh Al-Qur’an.

Percikan bayang-bayang Al-Qur’an dalam diri manusia akan melahirkan optimisme untuk mencari karunia Allah di muka bumi ini. Pesimisme dan ketakutan pada kehidupan adalah tampilah kehidupan yang jauh dari cahaya Al-Qur’an. Ketakutan pada kemiskinan adalah bagian tipu muslihat setan untuk mengelabuhi manusia dari keyakinan pada keluasan rezeki Allah buat manusia. Islam tidak mengenal keterbatasan sumber ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan manusia. “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (Al-Baqarah: 268)

Ali Rama

Mahasiswa S2 International Islamic University Malaysia (IIUM)

Categories: Umum
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: