Home > Economic Issues > PUASA DAN PEMERATAAN KONSUMSI

PUASA DAN PEMERATAAN KONSUMSI

Bulan ramadhan adalah bulan yang paling dinanti oleh seorang Muslim, ia adalah bulan pilhan yang memiliki banyak keutamaan, penuh rahmat, barakah dan pengampunan. Allah melebihkan bulan ini dari sebelas bulan lainnya, banyak peristiwa sejarah yang pernah terjadi di dalamnya, diturunkannya Al-Quran adalah salah satunya. Pada bulan ini juga do’a akan dikabulkan, nilai amal kebaikan akan dilipatgandakan. Karena keistimewaannyalah, pintu surga akan terbuka lebar dan pintu neraka akan terkunci rapat-rapat selama bulan ramadhan. Namun, keistimewaan bulan ramadhan tidak selamanya melekat pada orang-orang yang menjalaninya. Kedatangan bulan ramadhan boleh jadi hanya sekedar siklus bulanan yang pasti akan selalu terjadi sepanjang dunia ini masih ada. Sehingga rutinitas (puasa) yang dilakukan selama bulan ramadhan tidak jauh dari sekedar rutinitas belaka yang tidak berdampak pada perubahan kualitas hidup bagi mereka yang menjalaninya. Puasa bukan hanya sekedar aktifitas fisik semata dengan cara menahan diri dari makan dan minum, puasa mengandung pesan sosial dan moral yang luhur. Puasa bukan hanya ibadah berorientasi vertical semata, tetapi punya makna horizontal yang kuat. Pemaknaan puasa secara sempit inilah yang mengakibatkan puasa itu hanya sekedar rutinitas ritual namun miskin dampak sosialnya. Makna dibalik berpuasa yang sangat penting adalah anjuran untuk mengurangi tingkat konsumsi yang diikuti dengan memperbanyak berderma seperti membayar zakat, berinfak dan bersedekah. Ini secara langsung menjadi cara bagaimana mendistribusikan kekayaan secara merata di kalangan masyarakat. Orang kaya dianjurkan untuk mengurangi tingkat konsumsinya dengan cara berpuasa dan pendapatan yang tak dikonsumsi itu dianjurkan untuk didermakan kepada mereke-mereka yang tidak mampu. Jadi boleh dibilang bahwa bulan ramadhan adalah salah satu bentuk instrument agama untuk mengurangi tingkat kelaparan dan kemiskinan. Inilah nilai sosial Ramadhan yang jarang dipahami oleh mereka yang berpuasa. Orang yang berpuasa akan senantiasa memproteksi dirinya dari segala hal yang dapat mengurangi dan membatalkan puasanya baik secara langsung maupun tak langsung. Mengkonsumsi makanan secara berlebihan adalah salah satu yang dapat mengurangi nilai puasa seseorang. Oleh karena itu, puasa secara langsung akan mengubah perilaku konsumsi umat Islam, yaitu turunnya konsumsi individu yang berpuasa. Secara makro, hal ini akan menurunkan konsumsi agregat, khususnya barang kebutuhan pokok. Penurunan Tingkat Konsumsi Berpuasa secara teoritis harusnya dapat mengurangi tingkat konsumsi umat Islam khususnya konsumsi barang kebutuhan pokok. Namun, realitas yang terjadi pada bulan ramadhan adalah terjadinya konsumsi yang meningkat bahkan berlebihan, yaitu dengan membeli makanan, minuman, buah-buahan dan kue-kuean secara berlebihan yang harganya relative lebih mahal dari harga normal. Fakta ini bisa dilihat dengan tingkat kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok pada saat bulan Ramadan. Kenaikan harga-harga ini salah satunya dipicu oleh kenaikan permintaan terhadap barang kebutuhan pokok tersebut. Realitas lain yang sering terjadi adalah kebiasaan umat Islam (Indonesia) untuk membeli baju baru menjelan hari raya Idul Adha, ini adalah cerminan perilaku konsumtif yang sering terjadi pada bulan Ramadhan. Kebiasaan ini pada hakikatnya bertolak belakang dari makna puasa yang seyogyanya menurunkan tingkat konsumsi orang yang berpuasa. Konsumsi yang berlebihan pada bulan ramadhan menurut Agustianto justru akan menciptakan kelebihan permintaan pada barang dan jasa sehingga terjadi inflasi. Kondisi ini akan semakin memperburuk kehidupan orang miskin, karena daya beli mereka semakin menurun akibat inflasi. Jika hal ini terjadi pada bulan ramadhan, maka keberkahan tidak dirasakan oleh orang miskin akibat kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh perilaku tabzir orang kaya dalam konsumsi saat buka puasa. Konsumtif selama bulan Ramadhan sangat bertentangan dengan firman Allah “Makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Rasulullah juga menekankan pentingnya kesederhanaan saat berbuka puasa, cukup dengan seteguk air dan sebiji kurma. Perilaku konsumstif, tabzir dan israf selama bulan ramadhan sangat bertentangan dengan fungsi sosial dari puasa yang seharurnya mendorong terjadinya transfer of consumption dari golongan kaya ke golongan miskin. Pemerataan konsumsi bisa terjadi pada bulan ramadhan. Dengan berpuasa secara otomatis akan mengurangi frekuensi makan seseorang dalam satu hari menjadi dua kali. Jadi, alokasi makan berkurang satu kali dalam bulan ramadhan. Misalkan biaya makan satu kali sebesar Rp 7.000 – perorang dikalikan dengan jumlah keluarga misalkan 5 orang, maka dalam satu hari terjadi penghematan sebesar Rp 35.000. jika jumlah dana penghematan ini disedakahkan dan didistribusikan kepada orang miskin maka jumlah orang miskin di negeri ini akan berkurang. Ini sesuai dengan anjuran Rasulullah untuk memperbanyak sedekah dan infak pada bulan ramadhan. Jika ibadah puasa mampu mengubah perilaku konsumtif orang-orang yang berpuasa pada bulan ramadhan dan mengkonversi sebagian konsumsinya menjadi sedekah dan infak terhadap orang miskin maka di bulan ramadan ini akan terjadi pemerataan konsumsi. Mengeluarkan Zakat Fitrah Hal lain yang tidak kalah pentingnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan dan diwajibkan untuk dilakukan pada bulan ramadhan adalah zakat. Salah satu jenis zakat yang wajib dikeluarkan olah tiap individu laki-laki dan perempuan yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan pada bulan ramadhan adalah zakat fitrah (jiwa). Besar zakat yang dikeluarkan kira-kira setara dengan 3.5 liter atau 2,5 kg makanan pokok dan dikeluarkan pada saat sebelum shalat ied. Zakat fitrah ini dimaksudkan supaya setiap orang dapat menikmati kebahagian pada saat sholat ied, setiap orang dapat makan makanan seperti apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, tidak ada lagi orang yang kelaparan karena kekurangan makanan. Jadi salah satu fungsi zakat firah pada bulan ramadhan adalah untuk merelokasi kekayaan sumber daya dari orang yang surplus konsumsi ke orang yang defisit konsumsi, menciptakan pemerataan konsumsi (transfer of consumption) antara orang kaya dengan orang miskin. Cara ini sangat efektif dalam mengurangi jumlah orang miskin.

Ali Rama Mahasiswa s2 International Islamic University Malaysia (IIUM)

Categories: Economic Issues
  1. riki yahya
    July 21, 2011 at 7:38 am

    postingan yg sungguh bermanfaat mas..

    semoga saja seluruh umat muslim bisa menahan hal-hal yg sifatnya konsumtif atau berlebihan pada bulan Ramadhan..

    InsyaAllah saya juga akan mengambil judul skripsi “Perilaku Konsumsi pada Bulan Ramadhan”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: