Home > Economic Issues > MUDIK DAN JAKARTAISME

MUDIK DAN JAKARTAISME

Setelah berpuasa sebulan lamanya yang kemudian diikuti perayaan hari raya Idul Fitri masyarakat umumnya menggunakan momentum tahunan in untuk kembali ke kampung halamannya. Fenomena sosial ini dikenal sebagai mudik. Ritual sosial ini ditandai dengan pergerakan jutaan manusia dari pusat-pusat ekonomi di mana menjadi tempat untuk mengadu nasib menuju kampung halaman untuk sementara waktu.

Mudik yang biasanya terjadi satu minggu sebelum dan sesudah lebaran merupakan simbol kultur komunalitas yaitu budaya silaturrahim dengan keluarga dan kerabat terdekat yang mungkin sempat terputus akibat rutinitas kerja di tempat rantau. Mudik menjadi kebiasaan masyarakat untuk menjaga dan memperkuat ikatan-ikatan sosial-primordial dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Silaturrahim ini menjadi momen indah buat mereka untuk berbagi kesuksesan dan kenangan di masa lalu dan harapan-harapan masa depan.

Namun, tidak selamanya ritual mudik ini berakhir dengan kebahagian. Ada ratusan pemudik yang harus terpaksa berbaring di rumah sakit bahkan meninggal dunia lantaran menjadi korban kecelakaan saat menuju kampung halaman. Menurut data dari Mabes Polri menjelang H-1 lebaran telah terjadi 743 kasus kecelakaan, 144 orang tewas, 579 luka ringan dan berat serta kerugian material diperkirakan mencapai Rp 2,3 miliar. Jumlah ini mungkin diperkirakan akan terus bertambah sampai selesainya aru balik.

Korban mudik ini bukan hanya terjadi tahun ini saja tapi sudah menjadi peristiwan tahunan yang tak nampak jelas langkah antisispasi dan penyelesaiannya. Mudik lebaran 2009 lalu saja tercatat 702 orang meninggal dunia, 859 orang menderita luka besar dan 1.697 orang luka ringan (data Metro Polda). Tingginya angka kecelakaan ini umumnya disebabkan oleh buruknya infrastruktur dan kurangnnya langka antisipasi untuk menyambut ritual mudik ini.

Misalnya, kemacetan yang luar biasa yang terjadi di jalur utama mudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur atau biasa disebut lintas Pantai Utara. Kemacetan ini akibat minimnya jalur-jalur alternatif, ukuran jalan yang sempit, banyaknya jalan yang rusak dan pengaturan lalu lintas yang masih sembraut. Sehingga akan berujung pada kasus kecelakaan yang tak bisa terelakkan lagi.

Di sisi lain, fenomena mudik ini adalah potret kegagalan konsep pemerataan pembangunan nasional. Konsep desentralisasi pembangunan telah gagal menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata. Desentralisasi yang dimanivestakan dalam bentuk otonomi daerah ternyata gagal mendinamisasi perekonomian daerah, kantung-kantung pertumbuhan ekonomi tidak terbentuk di desa-desa.

Jika diamati secara seksama, kegiatan mudik sebenarnya hanya menggambarkan pergerakan sebagian penduduk jakarta kembali ke kampung halamannya di seluruh penjuru tanah air. Ini menandakan bahwa porsi pertumbuhan ekonomi nasional masih di dominasi oleh Jakarta. Jakarta masih saja menjadi daya tarik ekonomi yang luar biasa bagi semua level angkatan kerja.

Penumpukan aktivitas ekonomi yang berpusat di jakarta turut andil dalam membentuk tradisi mudik di tanah air. Jakartaisme, meminjam istilah Ali Ikhwan, masih menjadi paham ekonomi sekaligus orientasi ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jakarta menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, lebh dari 60 persen jumlah uang hanya berputar di Jakarta. Magnet ekonomi inilah yang menggerakkan terjadinya migrasi penduduk secara berlahan-lahan dari desa ke Jakarta yang berakibat pada kondisi Jakarta hari ini yang sudah tidak kondusif lagi lantaran jumlah penduduk yang melampaui kapasitas muatannya.

Pergerakan jumlah penduduk biasanya akan diikuti oleh pergerakan jumlah uang. Mudik jika dilihat dari perspektif ekonomi dapat menimbulkan multiplier effect bagi ekonomi daerah dan pedesaan. Mudik menciptakan terjadinya perpindahan uang dalam jumlah triliunan Rupiah. Dengan jumlah pemudik tahun ini saja misalnya diperkirakan mencapai 15-18 juta, andai saja setiap diantara mereka membawa uang Rp 5 juta saja maka diasumsikan terdapat Rp 75 – 90 trilliun uang yang akan mengalir ke daerah.

Ini lagi-lagi sebagai pertanda bahwa geliat ekonomi daerah sangat tergantung dari pergerakan uang dari ibukota ke daerah. Ini semakin mengukuhkan konsep jakartaisme dimana Jakarta menjadi sumber utama mengalirnya uang ke seluruh pelosok tanah air. Fakta ini tak lepas dari jumlah pemudik yang kebanyakan berasal dari Jakarta.

Oleh karena itu, peristiwa mudik boleh dikata merupakan bentuk kritik sosial terhadap strategi pembangun ekonomi nasional yang di jalankan selama ini. Konsep desentralisasi pembangunan ekonomi nasional harus di dorong terus pelaksanaannya. Konsep ini akan meransang munculnya pusat-pusat ekonomi di luar jakarta. Jika geliat pembangunan ekonomi daerah misalnya melalui pembangunan infrastruktur yang merata, investasi dan pemberdayaan potensi daerah maka animo masyarakat untuk datang ke Ibukota, Jakarta, akan semakin berkurang. Akhirnya, kesenjangan ekonomi Jakarta dan non-Jakarta mulai berkurang, pemerataan ekonomi ke seluruh pelosok juga akan mulai ternikmati.

Sehingga akhirnya fenomena mudik itu tidak hanya menjadi milik Jakarta saja bahkan kelak hiruk-pikuk mudik sudah menjadi peristiwa biasa saja karena tidak akan melibatkan gelombang pergerakan manusia dalam jumlah banyak dalam wilayah yang sama. Akhirnya  konsep ekonomi Jakartaisme tidak berlaku lagi.

Gombak, 11 September 2010

Ali Rama

Mafia Gombak

Categories: Economic Issues
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: