Home > Economic Issues > Kontribusi Saudagar Lokal Pada Ekonomi Nasional

Kontribusi Saudagar Lokal Pada Ekonomi Nasional

JUMAT, 17 SEPTEMBER 2010 | 23:51 WITA | 9282 Hits
Oleh: Ali Rama (Mahasiswa S2 di International Islamic University Malaysia (IIUM))

Ali Rama

GUNA meyelesaikan persoalan ekonomi Indonesia khususnya pada tingkat kemiskinan dan pengangguran yang masih relatif tinggi maka dibutuhkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Maret 2009, jumlah orang miskin di Indonesia masih mencapai 32,52 juta jiwa atau 14,15 persen dari total penduduk Indonesia. Sedangkan jumlah orang menganggur sebesar 8,96 juta orang atau 7, 87 persen dari total angkatan kerja.

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maka fokus pertumbuhan ekonomi seharusnya dikontribusikan oleh pertumbuhan sektor ril dibandingkan sektor keuangan yang tidak memiliki dampak signifikan terhadap pengurangan tingkat kemiskinan dan pengangguran.

Konsentrasi pada sektor rill khususnya bisa dilakukan dengan fokus pemberdayaan dan peningkatan kuantitas jumlah wirausaha Indonesia. Melalui pemberdayaan masyarakat menjadi wirausaha melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Jumlah wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta. Tentunya jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.

Jika sebuah negara ingin meningkatkan kemandirian dan ketangguhan ekonominya maka sudah seharusnya meningkatkan jumlah kewirausahaan penduduknya. Negara-negara maju relatif memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya.

Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka. Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11, 5-12 persen.

Indonesia membutuhkan jutaan wirausaha baru untuk menunjang agar Indonesia menjadi negara maju, sekaligus mendoraong penciptaan lapangan kerja sebagai solusi terhadap tingkat kemiskinan dan pengangguran yang sudah cukup berkepanjangan di negeri ini.

Menurut Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) negeri ini butuh empat juta wirausahan muda untuk menyamai negara-negara maju.

Usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatakan jumlah wirausaha baru yaitu dengan pendidikan kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan diharapkan dapat mengatasi pengangguran di indonesia. Kewirausahawan merupakan pilihan sekaligus keharusan apalagi di tengah pertumbuhan ekonomi yang bergerak lamban dan ketersediaan lapangan kerja yang terbatas.

Melalui program tersebut diharapkan generasi muda dapat lebih mandiri dan tidak berorientasi mencari kerja bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi pihak yang mecari pekerjaan.

Program penciptaan pengusaha baru secara berkesinambungan di setiap provinsi bisa dijadikan sebagai alternatif untuk menciptakan ketangguhan ekonomi berdasarkan dinamisasi ekonomi daerah. Usaha ini akan menjadi solusi terciptanya keseimbangan kinerja ekonomi di antara wilayah wilayah di Indonesia sekaligus juga akan mendorong munculnya produk-produk berbasiskan kedaerahan dari hasil eksplorasi terhadap sumber daya alam yang dimilikinya.

Untuk menunjang program ini maka dibutuhkan keberpihakan sektor perbankan melalui – setidaknya – dua hal penting, yakni: pertama, pemberian porsi kredit yang lebih besar kepada sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dibandingkan dengan sektor korporasi yang selama ini justru hanya menciptkana ketidakmerataan ekonomi. Kedua, pemberian kredit kepada usaha baru yang dimulai oleh para wiraswastawan muda dan baru itu.

Sudah jamak diketahui, bahwa selama ini bank seakan-akan ‘mengharamkan’ memberikan kredit kepada pengusaha baru dengan alasan ketiadaan previous atau historical business track record. Praktik seperti ini dianggap biasa bagi industri perbankan. Namun, bagaimana mungkin para pengusaha baru tersebut akan memulai, bila dari awal sumber dana potensial untuk modal mereka telah ditutup rapat-rapat.

Sesungguhnya, model musyarakah yang selama ini dikenal secara teori, dan baru dilakukan secara sangat terbatas oleh bank Islam, dapat menjadi alternatif bagi industri perbankan konvensional pada umumnya. Ingat betapa Bill Gates, pendiri Microsoft, dan sang raja komputer serta orang terkaya sedunia itu, juga memulai usahanya dengan pola musyarakah?

Pemberdayaan sektor kecil dan menengah ini – menurut Menteri Perdagangan – mampu mendongkrak kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 8 persen dari 2004-2008 sementara pemain besar hanya menyumbang sebesar 6,3 persen. Dalam keadaan ekonomi yang cenderung melambat, kontribusi sektor UKM justru lebih signifikan.

Keberpihakan pada sektor UKM dengan cara memfasilitasi akses pendanaan, memperbaharui kemampuan teknologi, membuka akses pasar dan inovasi produk maka akan melahirkan pengusaha-pengusaha lokal yang bisa berkompetisi secara nasional dan internasional yang nantinya akan berdampak pada penciptaan pengusaha-pengusaha baru yang siap mengembangkan produk-produk lokal yang sampai saat ini masih sangat melimpah di negari ini. Dengan program keberpihakan ini maka target seribu pengusaha di tiap-tiap provinsi akan terwujud.

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XII di Wisma Kalla Makassar bisa menjadi salah satu momentum munculnya pengusaha-pengusaha baru yang akan turut andil dalam membangun ekonomi daerah. Pengusaha-pengusaha muda baiknya berkonsentrasi pada pengembangan produk-produk lokal yang masih sangat bertebaran di daerah yang nantinya dipasarkan di pasar domestik dan pasar internasional.

Geliat ekonomi daerah melalui kemunculan pengusaha-pengusaha baru dengan produk-produk lokalnya akan berkontribusi pada ekonomi nasional yang berbasiskan ekonomi daerah. Inilah maksud dari nasihat Pak Jusuf Kalla dalam sambutannnya di acara PSBM ke XII bahwa negara maju diukur dari berapa banyak pengusahanya. Melalui merekalah negara bisa memproduksi dan menghasilkan nilai tambah. (*)

http://metronews.fajar.co.id/read/104952/19/kontribusi-saudagar-lokal-pada-ekonomi-nasional

Categories: Economic Issues
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: