Home > Economic Issues > Zakat Pengurang Kemiskinan

Zakat Pengurang Kemiskinan

Jumat, 28 Januari 2011 | 22:00:34 WITA | 88 HITS

Oleh: Ali Rama (Pengurus Unit Pelayanan Zakat Baznas RI di Malaysia)

Meskipun kinerja makroekonomi nasional menunjukkan prestasi yang cukup membanggakan, anggaplah misalnya pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 6,2 persen, melampaui ekspektasi target pemerintah, namun kinerja ini belum maksimal menyelesaikan persoalan mendasar negeri ini, yaitu kemiskinan dan kesenjangan pendapatan. Tahun 2010, anggaran pengentasan kemiskinan mencapai Rp80 triliun, naik Rp10 triliun dari tahun sebelumnya yang dialokasi kepada 22 lembaga/kementerian.

 

Angka kemiskinan di negeri ini masih cukup tinggi. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah orang miskin mencapai 31.02 juta jiwa atau 13,5 persen, mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2009 yang mencapai 32,53 juta jiwa atau 14,15 persen. Ini mengindikasikan kinerja ekonomi nasional dan alokasi anggaran pengentasan kemiskinan belum bisa bekerja maksimal dalam menekan tingkat kemiskinan sampai di bawah 10 persen dari total penduduk Indonesia.

 

Dalam perspektif Islam, akar penyebab kemiskinan adalah masalah struktural karena Allah telah menjamin rezeki dari setiap makhluknya. “Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)” (QS 30:40). Di saat yang besamaan Islam menutup terjadinya peluang kemiskinan kultural melalui anjuran untuk mencari rezeki dan karunia Allah yang melimpah dan tersebar di mana-mana (QS 63:10).

 

Salah satu cara Islam menyelesaikan kemiskinan struktural ini adalah dengan cara anjuran untuk menumbuhkan budaya Zakat, infak dan sadakah (ZIS) di kalangan umat Islam. Budaya berzakat, berinfak dan bersedekah bukan hanya berefek spiritual personal saja tapi juga berdampak secara sosial dan ekonomi. Ia dapat mengurangi tingkat kesenjangan pendapatan, kemiskinan dan tingkat kriminalitas.

 

Menurut Dr Ugi Suharto, para mustahik yang masuk dalam kategori delapan asnaf adalah orang-orang miskin. Fuqora adalah orang yang tidak berpenghasilan tetap. Ibnu Sabil, adalah orang yang terputus dari sumber kehidupan, sedangkan orang musafir adalah orang yang terputus dari sumber penghasilan. Fii sabilillah adalah mereka yang berperang di jalan Allah yang membutuhkan banyak biaya. Sementara amiilin adalah orang yang mengusahakan pengumpulan dan pendistribusian zakat. Secara umum, zakat diutamakan kepada fakir miskin.

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan utama ZIS (zakat, infaq dan sedekah) adalah untuk mengurangi kemiskinan. Penelitian yang dilakukan Dr Irfan Syauki Beik (2010) atas 1.195 rumah tangga penerima zakat di wilayah DKI Jakarta, menunjukkan bahwa dana zakat yang disalurkan mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga mustahik rata-rata 9,82 persen dan mengurangi tingkat kemiskinan mustahik sebesar 16,80 persen. Penelitian ini sebagai bukti bahwa jika ZIS dikumpulkan dan dikelola secara maksimal maka akan mampu menekan tingkat kemiskinan di negeri ini.

 

Jika para pengambil kebijakan di negeri ini memahami makna dan fungsi zakat secara komprehensif maka amandemen UU No 38 tahun 1999 yang salah satu tujuannya adalah menjadikan zakat sebagai pengurang pajak tidak perlu ditolak lagi. Zakat tidak seharusnya dipandang secara parsial yaitu menyangkut isu agama dan dapat mengurangi penerimaan negara dari pajak.

 

Sebenarnya tidak perlu terjadi kekhawatiran jika zakat sebagai pengurang langsung pajak, akan mengurangi jumlah penerimaan pajak. Malaysia yang telah menerapkan zakat sebagai pengurang pajak justru penerimaan zakatnya naik, pada saat bersamaan penerimaan pajaknya juga mengalami peningkatan. Bukan zakat yang akan mengurangi penerimaan pajak tapi justru koruptor-koruptor dan makelar-makelar pajak semacam “Gayus” yang berkeliaran di departemen perpajakan.

 

Penolakan amandemen Undang-Undang Zakat atas dasar isu agama yang sempat jadi isu nasional sudah tidak relevan lagi. Zakat seharusnya diletakkan dalam perspektif pengentasan kemiskinan. Zakat seharusnya menjadi bagian dari kebijakan fiskal negara dalam mengentaskan kemiskinan. Apalagi mengingat potensi zakat di Indonesia sangat besar jika dikumpulkan dan dikelola secara profesional.

 

Badan Amil Zakat Nasional (baznas) memperkirakan potensi zakat Indonesia bisa mencapai Rp100 triliun pertahun jika dikelola secara profesional. Dalam skala provinsi misalnya, potensi zakat di provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta. Angka ini sangat efektif jika dikelola secara amanah dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Penelitian Dompet Dhuafah tentang peta kemiskinan dan potensi zakat secara komprehensif menunjukkan bahwa terdapat 23.676.263 muzakki di seluruh Indonesia dengan jumlah kumulatif terbesar di daerah Jawa. Sementara jumlah mustahik di seluruh Indonesia sebanyak 33.943.313 jiwa yang sebagaian besarnya berada di Jawa Timur (7.446.180 jiwa), Jawa Tengah (7.012.814) dan Jawa Barat (5.736.425). Dengan adanya peta potensi zakat dan peta kemiskinan regional ini akan semakin mengefektifkan pengelolaan zakat di tanah air.

 

Yang harus ditingkatkan adalah peran dan kinerja lembaga pengumpul zakat. Alokasi penyaluran dana zakat lebih ditekankan pada pola pemberdayaan dibandingkan hanya sekadar pemberian cash langsung yang sifatnya konsumtif. Penyaluran kepada mustahik lebih diprioritaskan pada pemberian “kailnya” bukan “ikannya”, pemberian pemahaman tentang bagaimana mengelola keuangan juga perlu diberikan kepada para mustahik. Karena kebanyakan mereka tidak memahaminya sehingga terjebak pada pola konsumtif.

 

Pengelolaan dana zakat yang dilakukan oleh baznas dan Dompet Dhuafa sebenarnya sudah cukup baik, misalnya pendirian rumah sakit gratis, pemberian beasiswa, perbaikan infrastruktur dan program pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah. Efek jangka panjang program seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap para mustahik.

 

Unit Pelayanan Zakat (UPZ) Baznas RI di Malaysia misalnya mengalokasikan sebagian dana zakat yang terkumpul untuk dijadikan bantuan beasiswa kepada pelajar Indonesia yang tidak mampu di Malaysia dua kali dalam setahun kerja sama Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia. (*)

Categories: Economic Issues
  1. nobody
    February 2, 2011 at 5:29 am

    Kekuatan FreeMason Yahudi di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utama tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada orang yang bisa menangkap, mengadili, dan menghukum Gembong tersebut, selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

    • March 24, 2011 at 12:42 am

      InyaAllah mari kita berjuang u/ menegakkan apa yg diinginkan oleh Allah u/ kita design di kehidupan ini sesuai dg peran kita masing.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: