Home > Economic Issues > Arab Spring Versi Eropa

Arab Spring Versi Eropa

 Ali Rama

Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI)

Seorang anak muda bernama Mohamed Bouazizi yang membakar diri sebagai bentuk protes atas sempitnya lapangan pekerjaan menjadi pemicu lahirnya revolusi di Tunisia yang pada akhirnya menggulingkan penguasanya, Ben Ali, yang telah berkuasa puluhan tahun. Aksi bakar diri pemuda ini tidak hanya membakar Tunisia, tetapi juga apinya menjalar ke seluruh dunia Arab.

Revolusi ini kemudian memakan korban selanjutnya, yaitu Husni Mubarak di Mesir dan Muamar Qadafi di Libya, yang dipaksa turun dan menyerahkan kekuasaan kepada rakyatnya. Revolusi yang sudah berkembang menjadi revolusi Timur Tengah ini masih terus bergejolak di negara-negara Arab lainnya sampai saat ini, seperti Suriah dan Yaman, yang sudah menelan ratusan bahkan sampai ribuan korban. Tampaknya, revolusi Arab ini akan terus mengalir sampai menggulingkan penguasa tirani yang masih bercokol di kawasan Timur Tengah.

Jadi inspirasi

Pergolakan Arab yang dikenal sebagai Arab spring menginspirasi lahirnya gerakan occupy Wall Street di beberapa kota yang ada di Amerika Serikat (AS). Gerakan menduduki Wall Street ini kemudian menjalar ke sebagian negara Eropa dan Asia. Rakyat yang terpisah secara geografis, budaya, dan bahasa menunjukkan reaksi yang sama menuntut perbaikan hidup.

Rasa frustasi dari ketimpangan ekonomi antara si kuat dan si lemah atau si kaya dan si miskin terlihat dari segi kekuasaan maupun penguasaan sumber-sumber ekonomi. Arab spring maupun occupy Wall Street yang melibatkan massa besar tidak bisa dianggap remeh karena akan berakibat pada penggulingan kekuasaan jika tidak diikuti dengan respons atas tuntutan mereka.

Gerakan menduduki Wall Street adalah gerakan kekuatan rakyat yang dimulai pada 7 September 2011 di Liberty Square Manhattan dan sudah tersebar ke beberapa kota di AS dan kota-kota negara lain. Gerakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap kerakusan perbankan dan perusahaan multinasional yang telah menggerus keuntungan di tengah-tengah proses liberalisasi atas nama demokrasi di seluruh penjuru dunia, serta peranan Wall Street dalam menciptakan kekacauan ekonomi dan keuangan saat ini.

Kebebasan yang berlebihan telah memberikan ruang yang besar terhadap sistem kapitalisme menguasai seluruh sendi kehidupan manusia. Akibatnya, satu persen penduduk kaya dunia telah menguasai dan mengendalikan ekonomi global secara tidak adil. Sisa 99 persen lainnya yang menamakan diri sebagai We are the 99 percent menjadi korbannya, misalnya, kurangnya lapangan pekerjaan, gaji yang rendah, polusi lingkungan, biaya pendidikan, dan kesehatan yang tinggi serta terusir dari rumah karena gagal bayar kredit perumahan.

Pada sisi lain, krisis utang dan keuangan yang melanda beberapa negara Eropa yang juga tidak lepas dari kontribusi keserakahan sistem kapitalisme memicu lahirnya babak baru Arab spring versi Eropa. Krisis utang telah membenamkan Yunani ke dalam tumpukan utang yang mencapai 480 miliar euro, yang berarti dari 11 juta penduduk negeri itu masing-masing satu orang menanggung 31 ribu euro utama. Rasio utang terhadap PDB-nya sudah mencapai 160 persen. Kegagalan Yunani menyelesaikan persoalan ekonomi dan nasib rakyatnya berakibat pada pengunduran diri perdana menterinya, George Andreas Papandreou.

Nasib yang sama juga dialami oleh Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Ia mundur dari jabatan yang telah didudukinya selama 17 tahun akibat gagal memperbaiki kondisi ekonominya yang semakin memburuk. Lagi-lagi banjir utang yang mencapai 120 persen dari GDP-nya membuat masyarakat Italia muak atas Berlusconi.

Badai Eropa spring tampaknya juga akan menghantui negara-negara Eropa lainnya yang sudah masuk pada zona krisis utang, seperti Portugal, Irlandia, Inggris, dan Spanyol yang rasio utangnya sudah di ambang 100 persen. Kondisi kritis ini tidak akan usai untuk beberapa saat ke depan. Kondisi ini kemudian diperparah oleh sifat individualistik negara-negara Eropa lainnya yang cenderung melindungi kepentingan domestiknya daripada saling menolong di antara mereka.

Krisis utang di zona Eropa membuka mata kita bahwa ekonomi Eropa tidaklah setangguh yang dibayangkan selama ini. Ekonominya bagaikan house of cards (rumah kartu) alias perekonomian dibangun di atas fondasi utang. Sistem keuangan ini membantu mengalirkan ‘darah’ ke jantung perekonomian negara Eropa dengan cara menyedot likuiditas dari luar dalam jumlah yang besar untuk menggerakkan perekonomian Eropa dan membiayai defisit anggaran pemerintah.

Secara sederhana, defisit terjadi lantaran negara tersebut membelanjakan uang lebih banyak dari apa yang dihasilkan. Di sisi lain, kondisi ini menginformasikan bahwa perekonomian Eropa dibiayai dari tumpukan utang luar negeri.

Simbol kegagalan

Prahara yang terjadi di negara-negara Eropa, baik dalam bentuk tuntutan penutupan Wall Street sebagai lambang kapitalisme maupun krisis utang yang berujung pada tuntutan mundur perdana menterinya, sebenarnya sebagai simbol kegagalan kapitalisme di episentrum negara penganutnya. Sistem kapitalisme yang dibanggakan selama ini gagal menciptakan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Justru yang terjadi adalah krisis demi krisis yang selalu terjadi berulang kali dan menghasilkan korban berupa pengangguran, kenaikan harga, penjarahan, sosial kriminal, dan kemiskinan yang semakin akut. Menurut diskusi Ikatan Ahli Ekonomi Islam, sepanjang abad ke-20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar yang melanda negara Amerika Latin, Eropa, Asia, dan AS. Dan, krisis ini akan terus lahir dari rahim sistem kapitalisme.

Sistem kapitalisme ini telah melahirkan ketidakseimbangan ekonomi, penguasaan kekayaan ekonomi hanya di tangan segelintir orang kaya, dan ekonomi hanya didominasi oleh sektor keuangan tanpa menyentuh sektor ekonomi riil. Struktur ekonomi negara dibangun di atas tumpukan utang yang dihantui oleh kondisi gagal bayar di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, khususnya krisis utang di negara Barat dan Eropa.

Kondisi inilah yang menggerakkan sebagian masyarakat Eropa untuk menduduki dan membubarkan Wall Street sebagai simbol kapitalisme. Ujung dari prahara dan krisis utang ini adalah tuntutan mundur pemimpin negara karena gagal memperbaiki kondisi ekonominya. Arab dan Eropa spring adalah sama-sama gerakan kesadaran masyarakat yang menuntut kesejahteraan dan perbaikan nasib hidup yang lebih baik.

Tulisan ini diterbitkan di opini koran Republika

Jumat, 25 November 2011 pukul 10:14:00 (http://koran.republika.co.id/koran/24)

Categories: Economic Issues
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: