Home > Keuangan Shariah > Basis Maqasid Syariah

Basis Maqasid Syariah

Ali Rama (Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jkt) &

Makhlani (Penasehat Konsorsium Ekonomi Islam)

Hukum Islam dikenal memiliki dua sifat, yaitu baku (muhkamat), agar Islam memiliki satu kesatuan pikiran, rasa dan perilaku bagi umat dan menjadikannya umat yang satu, dan temporal (mutasyabihat) untuk membuka ruang perbedaan berdasarkan ruang, waktu dan kondisi masing-masing dengan tetap memperhatikan maksud-maksud syara’. Hukum dalam hal ini bisa berubah menurut situasi dan kondisi dengan tujuan tercapainya kemaslahatan manusia. Kedua sifat karakteristik hukum Islam inilah yang membuat Islam tetap orisinil dan bisa survive meskipun peradaban manusia semakin modern dan kompleks.

Hukum-hukum syariat yang disyariatkan kepada umat manusia adalah untuk kemaslahatan mereka sendiri di dunia dan akhirat. Tujuan syariah atau biasa disebut maqashid syariah adalah untuk mencapai kebaikan, maslahat bagi manusia dan menghindari bahaya dan kerusakan mereka.

Menurut Imam al-Ghazali, tujuan utama dari syariat adalah untuk mencapai kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan terhadap: agama (din), jiwa (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl) dan harta (mal). Segala sesuatu yang dapat melindungi lima unsur kepentingan publik tersebut adalah keharusan dan sebaliknya, segala sesuatu yang dapat mengancam ke lima kepentingan publik itu adalah harus dihilangkan.

Kebijakan pembangunan seharusnya berorientasi pada pemenuhan maqashid syariah, yakni perlindungan dan pengembangan lima unsur kepentingan publik tersebut. Pertama, perlindungan agama (din). Masyarakat diberikan ruang kebebasan untuk mengamalkan dan mengembangkan ajaran agamanya dengan baik. Agama menginjeksikan makna dan tujuan hidup dalam kehidupan, menyediakan arah yang benar atas semua usaha manusia dan mentransformasi individu menjadi manusia yang lebih baik melalui perubahan cara berpikir, sikap, perilaku, gaya hidup, selera dan bagaimana berinteraksi kepada Pencipta, sesama manusia dan lingkungan.

Para pakar sejarah termasuk Toynbee dan Durants mengakui bahwa agama memiliki peran penting dalam kemajuan suatu peradaban. Kejayaan peradaban Islam yang pernah berlangsung selama 8 abad tidak terlepas dari karakteristik ajaran Islam itu sendiri yang sangat mendorong pembangunan dan kemajuan peradaban. Jika kebijakan pembangunan bersifat sekularistik yang mengutamakan materialisme dan hedonisme, justru akan membuat pembangunan itu rapuh dan sebaliknya menurut Ibnu Khaldum sedang menuju ke kehancurannya. Oleh karenanya, orientasi pembangunan justru seharusnya mendorong setiap individu supaya taat menjalankan ajaran agamanya.

Kedua, perlindungan jiwa (nafs). Manusia adalah faktor penting dalam pembangunan sebagaiman fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Fungsi khalifah menempatkan manusia sebagai pelaku utama dan tentunya memiliki kapasitas untuk mengelola alam semesta beserta isinya sesuai yang dikehendaki oleh Sang Penciptanya.

Kebijakan pembangunan harus menjamin kelangsugan hidup manusia. Segala sesuatu yang dapat melindungi jiwa harus dijaga dan segala sesuatu yang dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia harus di basmi. Misalnya, Salah satu faktor yang paling banyak mengancam kehidupan manusia adalah kecelakaan lalu lintas. Menurut data dari WHO, kecelakaan lalu lintas menempati urutan ke 3 penyebab kematian setelah HIV/AIDS dan TBC. Ada sekitar 2,5 juta jiwa manusia mati di seluruh dunia setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas.

Di Indonesia sendiri, selama tahun 2011 terjadi 109.776 kecelakaan dengan korban meninggal 31.185. Yang baru-baru ini, sekitar 908 jiwa yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas saat mudik lebaran tahun ini, meningkat 17 persen dari tahun 2011. Artinya, syariat mewajibkan kepada pihak yang memiliki otoritas untuk menyediakan infrastruktur transfortasi yang nyaman, aman dan manusiawi yang bisa menyelamatkan jiwa manusia dari kematian. Jika pemerintah lalai menyediakan fasilitas umum ataupun turut membiarkan ini terjadi tanpa ada tindakan untuk mencegahnya maka secara moral itu melanggar syariat agama. Karena sudah membiarkan jiwa manusia mati secara sia-sia.

Ketiga, menjaga akal (‘aql). Akal adalah karakteristik pembeda manusia di banding dengan makhluk yang lain. Ia butuh untuk diasah dan dikembangkan secara terus-menerus demi mencapai kehidupan manusia yang berkeadaban. Akal adalah pabrik yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengembangan akal/ilmu bisa dilakukan melalui sistem pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Memberikan akses pendidikan bagi setiap manusia baik yang kaya maupun yang miskin, perkotaan maupun pedesaan adalah kewajiban agama sebagaimana ia adalah salah satu tujuan syariah yang harus dijaga dan dikembangkan. Semua negara-negara yang maju menempatkan pendidikan sebagai unsur penting dalam pembagunan negaranya.

Keempat, menjaga keturunan (nasl). Keturunan di sini bisa diartikan sebagai keberlanjutan. Pembangunan ekonomi misalnya tidak boleh hanya  mengejar pertumbuhan ekonom tinggi semata tanpa mempertimbangkan kesinambungan pembangunan (sustainable development). Semua kekayaan alam dikuras sampai habis tanpa memikirkan generasi-generasi selanjutnya. Oleh karenanya, kebijakan pembangunan semestinya lebih mengedepankan keberlanjutan pembangunan supaya generasi selanjutnya tidak mengalami kehabisan sumber ekonomi akibat kerakusan orang-orang masa kini.

Kelima, perlindungan harta (mal). Harta adalah sama pentingnya dibandingkan dengan empat item sebelumnya yang perlu dilindungi dan dikembangkan menurut maqashid syariah. Rasulullah bersabda “Tidak ada salahnya kekayaan bagi mereka yang bertakwa kepada Allah” (al Bukhari).

Harta adalah titipan Allah yang butuh untuk dikembangkan dan digunakan demi mengurangi kemiskinan, memenuhi kebutuhan manusia, membuat kehidupan lebih nyaman dan mendorong distribusi pendapatan dan kekayaan secara merata dan adil. Kebijakan demi mengembangkan kehidupan ekonomi orang-orang yang tidak mampu adalah termasuk dari kewajiban agama.

Hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan harta demi mencapai maqashid syariah adalah melalui pendidikan keuangan (financial education) bagi setiap individu. Setiap individu perlu diajari bagaimana mengelola sumber dan pengeluaran pendapatan, inilah yang jarang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan negeri ini. Setiap individu perlu diajarkan bagaimana menciptakan peluang yang bisa memberikan penghasilan keuangan. Pendidikan keuangan akan membuat anak didik untuk berorientasi menciptakan lapangan pekerjaan, atau dengan kata lain mengembangkan harta melalui penciptaan peluang bisnis yang baru. Inilah sebenarnya cara yang paling efektif dalam menanggulangi kemiskinan dibandingkan hanya mengandalkan program pengentasan kemiskinan dari pemerintah ataupun program zakat, infak dan shadakah yang juga persentasinya hanya sekitar 2,5% per individu. Wallahu’alam bissawab,

Tulisan ini diterbitkan di Opini Koran Republika (7/9/2012)

Categories: Keuangan Shariah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: